Minna Paddi Asset Management - Berita & Acara

Berita & Acara

Minna Padi Aset Manajemen - Suku bunga naik kok rupiah masih loyo ?
17 July 2018

Suku bunga naik kok rupiah masih loyo?

Terhitung sejak awal tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah terdepresiasi sebesar 5,8%. Posisi terakhir per 28 Juni 2018, rupiah berada di level 14.390 per dolar AS. Padahal dalam RAPBN 2018 tahun 2017 lalu, pemerintah memiliki target nilai tukar rupiah yang berada pada level 13.500 per dolar AS. Dari awal tahun 2018 hingga bulan Mei, cadangan devisa Indonesia telah menyusut hingga 9 miliar dolar AS, yang salah satunya digunakan sebagai bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pada akhirnya kita meninggalkan tren suku bunga rendah, ketika Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga pada bulan Mei 2018 sebesar 0,25% menjadi 4,5%. Di bulan berikutnya Juni 2018, BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 0,25% dan diikuti pula dengan kenaikan sebesar 0,5% pada bulan Juli 2018. Hal yang ditunggu-tunggu dapat memperbaiki posisi rupiah terhadap dolar AS malah justru berbanding terbalik. Rupiah masih belum bisa kembali ke level dibawah 14.000 rupiah, sementara posisi dolar AS terus menguat.

Pada dasarnya pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar AS tidak lepas dari faktor eksternal yakni negara AS itu sendiri. Sejak awal 2017, Federal Reserve telah menaikkan tingkat suku bunga AS dari 0,5% menjadi 2% atau telah naik sebanyak 6 kali. Implikasinya imbal hasil surat utang Negara AS tenor 10 tahun terkerek naik hingga hampir mencapai 3% di penghujung semester pertama 2018, dari sebelumnya sempat berada di level 2,2% pada pertengahan tahun lalu. Pada akhirnya arus investasi yang berbentuk surat utang turut meningkat dan mendorong permintaan mata uang dolar AS.

Disisi lain, data ekonomi AS juga menunjukan tren percepatan pertumbuhan ekonomi sejak tahun lalu atau tepatnya pada kuartal III 2017, ekonomi AS tumbuh 3,1% dibanding kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 1,2%. Pertumbuhan ekonomi rata-rata sebanyak 3% dibanding tahun sebelumnya ini terus berlanjut hingga kuartal IV 2017 dan kuartal I 2018. Terkait dengan adanya fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, hal ini mendorong investor untuk mengumpulkan Aset Safe Heaven berdenominasi mata uang dolar AS, sehingga mengakibatkan permintaan dolar AS terus meningkat.

Kembali ke dalam negeri, kinerja ekspor yang lebih rendah dibanding impor di sepanjang semester pertama 2018 menghasilkan defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar 1,52 Miliar dolar AS pada Bulan Mei 2018. Alhasil meningkatnya kebutuhan dolar AS dari dalam negeri turut membebani nilai tukar rupiah terhadap dolar. Adapun upaya BI dalam menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah juga masih belum dapat membawa Rupiah ke dalam posisi yang lebih baik. Sehingga,  diperkirakan pemerintah masih akan menaikkan suku bunga acuan yang diharapkan kedepannya dapat  memperbaiki kondisi rupiah.

 

Related
Article