Minna Paddi Asset Management - Berita & Acara

Berita & Acara

Minna Padi Aset Manajemen - Investasi Syariah
17 September 2018

Investasi Syariah

Investasi Syariah berawal dari berkembangnya implementasi prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam. Prinsip ekonomi Islam diantaranya memperkenalkan prinsip menjalankan usaha-usaha yang hala, yakni tidak terlibat dalam usaha yang diharamkan, baik kegiatan/kontrak maupun barang yang dipertukarkan, dan juga penghapusan dan pelarangan riba. Ditinjau dari segi operasionalnya, prinsip ekonomi Islam diantaranya mengenal konsep adil, bertanggung jawab, dan tidak berlebih-lebihan dalam implementasinya.

Sejak pertengahan tahun 1997, kegiatan investasi syariah di Indonesia sudah mulai diperkenalkan melalui reksa dana syariah dan fatwa DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia). Prinsip-prinsip pasar modal syariah secara resmi dikeluarkan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) pada tanggal 14 dan 15 Maret 2003. Pada dasarnya pasar modal syariah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam Indonesia yang ingin berinvestasi pada produk-produk pasar modal yang sesuai dengan prinsip dasar syariah.

Namun pemahaman dan pengetahuan masyarakat Indonesia terkait kegiatan investasi syariah pada pasar modal Indonesia, belum merata dikutip dari survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2016, indeks literasi dan inklusi keuangan nasional untuk pasar modal berada di angka 4,4% dan 1,3%. Angka tersebut menunjukkan dari sekian banyak jumlah penduduk Indonesia, masih sedikit yang paham dan mempunyai akses ke pasar modal. Keadaan tersebut salah satunya lahir karena masih ada umat Islam yang beranggapan investasi di pasar modal itu haram.

Dilihat dari instrumennya, investasi syariah memiliki jenis yang sama seperti yang umum terdapat pada investasi konvensional. Untuk efek saham, pilihan emiten terseleksi dari jenis usahanya apakah memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa yang sesuai dengan prinsip syariah. Selain itu besaran utang berbasis bunga juga menjadi penilaian. Dua hal tersebut yang diantaranya membedakan efek saham syariah dan konvensional.

Sementara untuk efek utang atau pendapatan tetap, status pemegang obligasi merupakan pemodal, sedangkan penerbit obligasi adalah pengelola modal dan prinsip investasi yang dijalankan adalah bagi hasil. Lain halnya dengan investasi konvensional yang hubungan pemegang dan penerbit obligasi ialah hubungan pemberi dan penerima utang yang berbasis bunga.

Pada dasarnya, efek syariah dapat dilihat daftarnya di dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang dikeluarkan oleh OJK dua kali dalam satu tahun. Emiten yang efeknya masuk ke dalam DES sudah memenuhi syarat-syarat yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Bagi calon investor syariah yang masih ragu dalam menentukan pilihan instrumen investasinya, terdapat Reksa Dana Syariah. Reksa Dana syariah dapat menjadi alternatif pilihan yang tepat bagi calon investor baru. Sama halnya dengan Reksa Dana Konvensional, Reksa Dana syariah juga hadir diantaranya dalam bentuk Reksa Dana saham. pendapatan tetap, dan campuran. Kesimpulannya, investasi syariah hadir untuk memenuhi kebutuhan investasi bagi mereka yang ingin berinvestasi sesuai prinsip-prinsip syariah dan sebagai ragam pilihan investasi untuk masyarakat secara umum.

 

sumber : Kontan - Reksadanapedia

Related
Article